IMPLEMENTASI HASIL PEMBIAKAN MASSAL SERANGGA

Salah satu kendala penyebab susutnya hasil panen kedelai adalah serangan hama ulat grayak, Spodoptera litura (F.) (Lepidoptera: Noctuidae). Pengendalian hama tersebut sampai saat ini masih mengandalkan insektisida kimiawi sedangkan pengendalian secara hayati dengan memanfaatkan musuh alami belum banyak dilaporkan. Umumnya, ulat grayak dikendalikan dengan insektisida secara terjadwal, mulai tanaman berumur 3-9 minggu setelah tanam dengan frekuensi seminggu sekali atau lebih. Penggunaan insektisida menjadi berlebihan, sehingga seringkali tidak mengenai sasaran, bahkan dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap pendapatan petani, maupun lingkungan, seperti musnahnya serangga berguna (parasitoid, predator, dan penyerbuk), dan munculnya gejala resurgensi dan resistensi hama terhadap insektisida. Cara tersebut dilakukan petani karena belum tersedia cara pengendalian lain yang efektif dan berwawasan lingkungan.

Mengingat dampak negatif penggunaan insektisida, pemerintah telah mengeluarkan kebijaksanaan tentang sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pelaksanaannya dengan menciptakan dan menerapkan teknologi pengendalian hama yang berwawasan lingkungan, antara lain dengan memanfaatkan musuh alami. Spodoptera litura nuclear polyhedrosis virus (SlNPV) yang memiliki nama ilmiah Borrelinavirus litura (Virales: Borrelinaceae) merupakan salah satu patogen yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan sebagai insektisida mikrobia dalam mengendalikan ulat grayak (Arifin, 1988).

Pembiakan massal ulat grayak yang akan dimanfaatkan menjadi inang SlNPV dapat dilakukan di laboratorium yang dipelihara dengan pakan buatan hingga berbentuk kepompong. Fasilitas yang diperlukan selama pembiakan massal serangga ini adalah ruang pemeliharaan ulat, ruang pakan buatan, ruang perbanyakan virus, dan ruang recovery dan formulasi.

Pada tahun 1998/1999, produk bioinsektisida NPV sebanyak 125 kg dapat diaplikasikan pada luasan 250 ha. Biaya produksi untuk skala luasan 1 ha sebanyak Rp 67.000 dengan rincian sebagai berikut:

  1. bahan untuk pakan buatan, formulasi, dan kemasan   Rp 25.000
  2. upah pembiakan massal ulat grayak, perbanyakan NPV dan pemformulasian NPV                                                                 Rp 40.000
  3. biaya lain-lain                                                                                    Rp   2.000

Karena bobot netto produk dalam kemasan ditentukan 500 gram untuk skala luasan 1 ha, maka biaya produksi per kemasan juga sebanyak Rp 67.000 per 500 g atau Rp 134.000/kg. Bila dibandingkan dengan harga insektisida yang direkomendasikan, biaya produksi bioinsektisida NPV sekitar 50% lebih murah.

Hama perusak daun Spodoptera litura merupakan salah satu hama utama pada tanaman kedelai di Indonesia. Kehilangan hasil kedelai akibat serangan hama ini dapat mencapai 80%. Dengan harga produksi kedelai pada tahun 1998 adalah Rp 2.300/kg dengan asumsi produksi sebesar 1.500 kg/Ha, maka dapat diketahui biaya produksi total adalah Rp 3.450.000/Ha. Apabila kerusakan hama Spodoptera litura menyerang hingga kerusakan mencapai 80%, maka kerugian dapat mencapai lebih kurang Rp 2.760.000/Ha.

Setelah diketahui tingkat kerugian mencapai Rp 2.760.000/Ha, maka dapat dibandingkan antara biaya produksi insektisida SlNPV dengan tingkat kerugian yang ditimbulkan Spodoptera litura pada pertanaman kedelai. Biaya produksi bioinsektisida yang lebih rendah dibandingkan dengan tingkat kerugian menunjukkan bahwa pembuatan bioinsektisida ini sangat bermanfaat dan dapat menekan kerugian dari serangan Spodoptera litura pada pertanaman kedelai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s