PERKEMBANGAN DAN BENTUK PREDASI Coccinella septempunctata L. (Coleoptera: Coccinellidae) DENGAN BERBAGAI SPESIES APHIS

Oleh: Arshad A dan Parvez Q. R

INTISARI

Kinerja dari Coccinella septempunctata diselidiki pada lima spesies aphis, Lipaphis erysimi, Aphis craccivora, Hyadaphis coriandri, Rhopalosiphum nymphae dan Macrosiphum rosae dibawah kondisi yang stabil (25±1°C, 70±5% RH dan 12 jam T: 12 jam G). Periode perkembangan keseluruhan dari C. septempunctata diketahui secara signifikan lebih lama dengan pakan L. erysimi dan lebih pendek dengan pakan M. rosae. Larva C. septempunctata memiliki periode perkembangan lebih lama dengan pakan H. coriandri dan lebih pendek dengan pakan M. rosae. Berdasarkan jenis kelamin, C. septempunctata betina memiliki periode perkembangan lebih lama daripada jantan dengan pakan dari kelima spesies. Berkaitan dengan predasi, larvanya mengkonsumsi maksimum pada H. coriandri, sedangkan dewasanya mengkonsumsi maksimum pada L. erysimi. Pada larva instar akhir (instar 4), terlepas dari jenis aphis yang dikonsumsi, larva ini mengkonsumsi lebih banyak dari instar larva yang lain. Predasi yang dilakukan C. septempunctata betina terhadap semua jenis aphis lebih tinggi dibandingkan jantan. Predasi secara keseluruhan C. septempunctata tampak signifikan lebih tinggi pada L. erysimi daripada spesies lainnya. Kurva korelasi linier menunjukkan bahwa adanya ketergantungan predasi pada periode perkembangan C. septempunctata.

PENDAHULUAN

Aphis termasuk ke dalam jenis kelompok hama pemakan tumbuhan yang masuk dalam family Aphididae dari ordo Hemiptera, yang biasanya mendominasi di daerah bersuhu sedang seperti Amerika Utara, Eropa, Tengah dan Timur Asia (Nelson dan Rosenheim, 2006). Sekitar 4000 spesies aphis telah diketahui memiliki inang 250 tanaman pangan dan hortikultura di seluruh dunia. Telur dari hama ini berkembang secara perthenogenesis di dalam tubuh betina dan nimfa akan muncul setelah beberapa hari, sehingga populasi dapat meningkat secara tajam (Blackman dan Eastop, 2000). Kedatangan pertama pada saat infestasi, aphis dewasa tidak memiliki sayap, tetapi apabila suau saat populasi mulai padat, maka sayap akan terbentuk pada generasi berikutnya untuk melakukan penyebaran dari tanaman satu ke tanaman yang lainnya (Braendle et al., 2005).

Aphis menyebabkan kerusakan pada tanaman dengan mengisap cairan tanaman dan mengeluarkan honeydew (embun madu) sebagai eksresinya yang kemudian akan menimbulkan datangnya embun jelaga pada tunas dan daun, dan secara tidak langsung menjadi vektor penyakit yang disebabkan oleh virus pada tanaman (Kennedy et al., 1962). Pengendalian hama ini lebih mudah dengan menggunakan musuh alami, karena penggunaan insektisida menimbulkan banyak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Dalam ekologi, predasi merupakan interaksi biologi dimana terdapat predator (sebagai organisme yang menyerang) memakan mangsanya (organisme yang diserang) atau dapat dikatakan sebagai interaksi antar spesies dimana satu spesies dijadikan makanan oleh spesies lainnya (Begon et al., 1996). Predator bisa membunuh atau tidak mangsanya untuk dimakan, tetapi dalam suatu predasi biasanya menunjukkan hasil bahwa mangsa itu mati (Molles, 2002).

Kumbang kubah adalah salah satu predator yang memakan beragam makanan. Aphis merupakan makanan pokok dari serangga yang masuk dalam family Coleoptera, ordo Coccinellida ini, sedangkan coccids, rayap, honeydew, pollen, nektar dan lumut termasuk makanan sekunder (Bianchi et al., 2004). Salah satu kumbang kubah yang memiliki potensial dalam mengendalikan populasi aphis adalah Coccinella septempunctata (Pervez and Omkar, 2005). Baik larva maupun dewasanya memakan aphis. Perkembangan dan potensi makan dari coccinelid bervariasi dan memilih sesuai dengan kondisi lingkungannya.

TUJUAN

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui periode perkembangan dan predasi yang dilakukan oleh Coccinella septempunctata pada spesies aphis yang berbeda.

ALAT, BAHAN DAN METODOLOGI

 1. Alat & Bahan

Penelitian ini menggunakan alat-alat antara lain, micro-plots ukuran 3×4 meter, BOD (biochemical oxygen demand) incubator, blotting paper, petridis, soft camel hair brush, dan vial plastik. Dan bahan yang dibutuhkan antara lain, tanaman Indian mustard (Brassica juncea L.), kacang (Phaseolus vulgaris L.), ketumbar (Coriandrum sativum L.), dan tanaman hias, Verbena (Verbena laciniata), dan mawar (Rosa indica) yang berumur lima tahun.

2. Metodologi

a. Kultur aphis

Kultur aphis dilakukan secara alami, yaitu dengan penanaman tanaman Indian mustard (Brassica juncea L.), kacang (Phaseolus vulgaris L.), ketumbar (Coriandrum sativum L.), dan tanaman hias, Verbena (Verbena laciniata) pada micro-plots berukuran 3×4 meter (dengan 3 ulangan) pada musim dingin tahun 2005 hingga 2006, dan mawar (Rosa indica) yang berumur lima tahun yang ditanam di kebun percobaan Jurusan Perlindungan Tanaman, Fakultas Ilmi Pertanian, Universitas Aligarh Muslim, Aligarh, India. Investasi aphis secara alami akan terjadi secara alami di minggu terakhir bulan Desember pada tanaman indian mustard, ketumbar dan tanaman mawar, sedangkan pada tanaman kacang, aphis akan muncul di minggu kedua bulan Januari. Kumpulan aphis dibiarkan berkembang secara partenogenesis sesuai pertumbuhan tanaman. Selanjutnya spesies aphis mulai dikumpulkan dari masing-masing jenis tanaman dan diidentifikasi di Laboratorium Aphidologi, Jurusan Zoology, Universitas Kalyani, Bengal Barat. Kemudian pengendali alami dari aphis, yaitu berbagai kumbang juga dikumpulkan bersamaan dengan koloni aphis pada jenis tanaman bersangkutan.

b. Kultur kumbang kubah

Kumbang yang sudah dikumpulkan dan diidentifikasi, kemudian diambil fase larva dan pupa untuk dibiakkan dalam BOD inkubator untuk menjadi dewasa. Kondisi pada inkubator diatur pada suhu 25±1°C dengan kelembaban 70±5% dan lama penyinaran 12 jam T: 12 jam G. Kumbang dewasa yang baru saja muncul dibiakan dengan pakan masing-masing jenis aphis secara berpasangan dalam petridis (diameter 90 mm dan tinggi 10 mm). Kertas hisap diletakkan menyebar di bagian dalam sebagai tempat peletakkan telur. Telur yang dihasilkan oleh kumbang betina dewasa dihitung dan dipindahkan ke dalam petridis lain dengan menggunakan soft camel hair brush, hingga proses penetasan. Setelah menetas, dua puluh larva yang baru menetas (umur 0 hari) dibiakkan secara individu dalam vial plastik (diameter 4 cm dan tinggi 6 cm) untuk pakan berdasarkan masing-masing spesies aphis. Masing-masing percobaan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Untuk larva yang baru lahir, dibutuhkan 30 hingga 40 nimfa aphis masing-masing spesies aphis dengan mengikutsertakan masing-masing ranting tanaman sebagai makanan larva kumbang. Jumlah aphis yang digunakan untuk pakan kumbang terus meningkat hingga mencapai jumlah maksimum yaitu 100 nimfa setiap hari sesuai dengan usia larva. Langkah ini diteruskan hingga mencapai masa berpupa. Bersamaan dengan itu, exuvae yang ada akibat pergantian instar dari larva, dibersihkan. Jumlah aphis yang dikonsumsi oleh masing-masing larva dihitung, baik dalam keadaan mati maupun tidak dikonsumsi dihitung jumlahnya setiap hari dan digantikan dengan aphis yang baru.

Setelah kemunculan kumbang dewasa (baik betina maupun jantan), mereka kembali diberikan makan aphis dengan jumlah minimum 100 nimfa aphis setiap hari, hingga kumbang dewasa ini mati. Dengan cara ini, konsumsi harian dari larva, hingga kumbang dewasa baik jantan maupun betina pada masing-masing aphis yang berbeda spesies telah dicatat.

PEMBAHASAN

Tabel 1. Hasil analisis DMRT dengan a = 0.05. Pada perkembangan hasil ditunjukkan dengan periode dalam hari±SE; huruf yang sama menunjukkan tidak ada beda nyata dan huruf yang berbeda menunjukkan adanya beda nyata.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa periode perkembangan C. septempunctata terlihat signifikan berbeda pada berbagai spesies aphis. Variasi ini dapat disebabkan adanya perbedaan pada ukuran atau biomassa pada spesies aphis yang berbeda tersebut (Bhadauria et al., 2001). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kumbang betina dewasa menunjukkan adanya sikap untuk bertahan hidup pada semua spesies aphis yang berbeda daripada kumbang jantan dewasa.

Dalam penelitian ini membuktikan bahwa larva C. septempunctata cenderung memakan lebih banyak H. coriandri daripada spesies aphis yang lain, dimungkinkan adanya ukuran aphis yang kecil (Singh et al., 1994). Kumbang dewasa (baik jantan maupun betina) memangsa lebih banyak lebih banyak L.erysimi dibandingkan spesies aphis yang lain (Hodek, 1973).

Peningkatan pada umur C. septempunctata menunjukkan dengan jelas adanya peningkatan konsumsi pada mangsanya (Babu, 1999). Selain itu tanaman inang tertentu (Elliot et al., 2000) dan karakteristik dari tanaman tersebut (Hodek dan Honek, 1996) juga memberikan pengaruh pada potensial predasi.

Coccinella septempunctata dewasa lebih banyak memangsa aphis daripada tingkat larvanya (Singh et al., 1994), sedangkan berdasarkan jenis kelamin, kumbang betina dewasa lebih banyak mengkonsumsi aphis daripada kumbang jantan dewasa (Singh dan Singh, 1994).

Bisa diketahui dari penelitian ini bahwa Lipaphis erysimi memberikan respon yang lebih baik pada C. septumpunctata, pada percobaan di laboratorium, dalam hal perkembangan dan tingkat predasi dibandingkan spesies aphis lainnya (A. craccivora, H. coriandri, R. nymphae, dan M. rosae) dan oleh karena itu, diharapkan dilanjutkan adanya informasi untuk memperkenalkan C. septempunctata dalam program pengendalian hama aphis secara biologi dilihat dari sisi ekonomi.

KESIMPULAN

Lipaphis erysimi memberikan respon yang lebih baik pada Coccinella septempunctata, pada percobaan di laboratorium, dalam hal perkembangan dan tingkat predasi dibandingkan spesies aphis lainnya (A. craccivora, H. coriandri, R. nymphae, dan M. rosae).

Sumber:

Babu, A. 1999. Influence of prey species on feeding preference, post-embryonic development of Coccinella transversalis F. (Coleoptera: Coccinellidae). Entomology, 24: 221-228.

Begon, M., Townsend, C., Harper, J. 1996. Ecology: Individuals, Populastions and Communities (Third edition). Blackwell Science, London.

Bhadauria, N. K. S., S. S. Jakhmola and N. S. Bhadauria. 2001. Biology and feeding potential of Menochilus sexmaculatus on different aphids. Indian J. Entomol. 63: 66-70.

Bianchi, J. J., A. Felix and W. Werf. 2004. Model Evaluation of the function of prey in non-crop habitats fot biological control by ladybeetles in agricultural landscapes. Ecol. Modelling. 171: 177-193.

Blackman, R. L. and V.S Eastop. 2000. Aphids on the World.s Crops: An Identification and Information Guide. 2nd Ed., John Wiley and Sons, Chichester. United Kingdom.

Braendle, C., I. Friebe., M. C. Caillaud and D. K. Stern. 2005. Genetic variation for an aphid wing polyphenism is genetically linked to a naturally occuring wing polymorphism. Proceedings of the Royal Society of London. 272: 657-664.

Elliot, N. C., R. W. Kieckhefer and D. A. Beck. 2000. Adult coccinellid activity and predation on aphids in spring cereals. Biol. Cont., 17: 218-226.

Hodek, I and A. Honek. 1996. Ecology of Coccinelidae. Kluwer Academic Publishers, Dordrecht, pp: 464.

Kennedy, J. S., M. F. Day and V. F. Eastop. 1962. A conspectus of aphids as vectors of plant viruses. Commonwealth Inst. Ent., London, pp: 114.\

Molles, M. C., Jr. 2002. Ecology: Concepts and Applications (International Ed.). The McGraw-Hill Companies, Inc., New York.

Perves, A. and Omkar. 2005. Functional responses of coccinelid predators: An Illustration of a logistic approach. J. Insect. Sci., 5: 5.5. Available online: Insectscience.org/5.5.

Singh, D and H. Singh. 1994. Predatory potentiality of coccinellids, Coccinella septempunctata Linnaeus and Hippodamia variegata (Goetze) over mustard aphid, Lipaphis erysimi (Kaltenbach). Crop Res. Hisar., 7: 120-124.

Singh, V.S., R. P. Yadav and R. Singh. 1994. Post-embryonic development , survival rate and predation potential of Coccinella septempunctata Linn. In: relation of mustard aphid (Lipaphis erysimi Kalt.). J. Entomol. Res., 18: 5-10.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s