Teduhnya Mata Komunis — part 1

Menjadi sebuah kebanggaan kala bisa menjadi salah satu partisipan menyeminarkan penelitian akhir, katakanlah skripsi di negara orang lain.

Hanoi, Vietnam Rose.

Beriklim sub tropis yang menyambut kedatanganku kali itu dengan suhu panasnya 31°C, kembali membawa kenangan akan syar’i-ku di negara komunis itu.
Hampir 80% Vietnamese people atau Kinh people tidak beragama. Melangkahkan kaki setelah departure menuju bagian pengecekan paspor, aku menjadi pusat perhatian banyak orang, baik turis lokal maupun internasional. Dan aku pun hanya cuek“.

As long as you don’t bother me it’s okay.

Semakin langkah ku melangkah tatapan demi tatapan makin menjadi. They’re whispering behind my ears. Walau tak paham dengan apa yang mereka katakan dalam bahasa Viet, namun gerak gerik mereka cukup menyadarkan aku.

Keteguhan iman, Innallaha ma’ana.

Dua hal yang selalu menjadi pedoman bagiku untuk menenangkan kegusaran dan kelemahan hati. Allah ‘azza wa jalla memberikan kesempatan ini untuk membuat aku tegar akan pilihanku. Keep positive thinking.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s